Sabtu, 21 Juli 2012

Panduan Amaliyah Ramadhan


Muqoddimah

Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah,tapi dia mempunyai makna tersendiri . Ramadhan bagi seorang muslim adalah rihlah (perjalanan) dari kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah,dari kehidupan penuh berbagai masalah keduniaan menuju kehidupan yang penuh tazkiyatus nafs dan riyadhotur ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah.muali dari tilawah Al-Qur-an,menahan syahwat dengan shiyam,sujud dalam qiyamul lail, ber’itikaf di masjid, dan lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah puasa ramadhan yaitu : agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah:183 dan akhir Al-Hijr)
Ramadhan juga merupakan bulan latihan bagi peningkatan kualitas pribadi seorang muslim. Hal ini terlihat pada esensi puasa yakni agar manusia selalu dapat meningkatkan nilainya di hadapan Allah SWT dengan bertaqwa, disamping melaksanakan amaliyah-amaliyah positif yang ada pada bulan Ramadhan.
Diantara amaliyah-amaliyah-amaliyah Ramadhan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW baik amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma’iyah adalah sebagai berikut :
1. Shiyam (puasa)
Amaliyah terpenting selama bulan Ramadhan tentu saja adlah shiyam (puasa),sebagaimana termaktub dalam firman Allah pada surat Al-Baqarah:183-187 Dan diantara amaliyah shiyam ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah :
a. Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu-rambunya.
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya”(HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi).
b. Tidak meninggalkan Shiyam, walaupun sehari dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at Islam.
Rasulullah SAW bersabda bahwa : “Barang siapa tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau sakit,hal itu merupakan dosa besar yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia berpuasa selama hidup” (HR at Turmudzi).
c. Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam
Rasulullah SAW pernah bersabda : “Bukanlah (hakikat) shiyam itu sekedar meninggalkan makan dan minum,melainkan meninggalkan pekerti sia-sia (tak bernilai) dan kata-kata bohong” (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah juga bersabda bahwa : “Barang siapa berpuasa tidak juga meninggalkan kata-kata bohong bahkan mempraktekkannya,maka tidak ada nilai bagi Allah apa yang ia sangkakan sebagai puasa, yaitu sekedar meninggalkan makan dan minum” (HR Bukhori dan Muslim)
d. Bersungguh-sungguh melakukan shiyam dengan menempati aturan-aturannya.
Rasulullah SAW bersabda : “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan sepenuh Iman dan kesungguhan,maka akan diampunkan dosa-dosa yang pernah dilakukan” (HR Bukhori,Muslim dan Abu Daud).
e. Bersahur, Makanan yang berkah (al ghoda’ al mubarok).
Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda bahwa : “Makanan sahur semuanya bernilai berkah.maka jangan anda tinggalkan,sekalipun hanya dengan seteguk air. Allah dan para Malaikat mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur” (HR Ahmad). Dan di sunnahkan mengakhiri makan sahur.
f. Ifthor, berbuka puasa.
Rasulullah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi kebaikan umat manakala mereka mengikuti sunnah dengan mendahulukan ifthor (berbuka puasa) dan mengakhirkan sahur. Dalam hal berbuka puasa Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang paling dicintai olehNya,ialah mereka yang bersegera berbuka puasa”. (HR Ahmad dan Tarmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob (kurma mengka),atau tamr (kurma) atau air saja” (HR Abu Daud dan Ahmad).
g. Berdo’a.
Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan ber ifthor, Rasulullah SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan sebagai wujud syukur kepada Allah. Rasulullah bahkan mensyari’atkan agar orang-orang berpuasa banyak memanjatkan do’a,sebab do’a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini beliau pernah bersabda: ” Ada tiga kelompok manusia yang do’anya tidak ditolak oleh Allah. Yang pertama ialah do’a orang-orang yang berpuasa sehingga mereka berbuka” (HR Ahmad dan Turmudzi)
2. Tilawah (membaca) Al-Qur’an
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. (OQ Al Baqaroh:185). Pada bulan ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas Al-Qur’an dengan Rasulullah SAW (HR Bukhori). Maka tidak aneh kalau Rasulullah SAW (yang selalu menderas Al-Qur’an di sepanjang tahun ini) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. Imam Az Zuhri pernah berkata : ” Apabila Ramadhan datang maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Qur’an. Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap mempertahankan tajwid (kaedah membaca Al-Qur’an”. Dan esensi dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk ditadabburi,dipahami dan diamalkan (QS.Shod:29).
3. Ith’am ath tho’am (memberikan makanan dan Shodaqoh lainnya).
Salah satu Amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan Ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti beliau sabdakan “Barang siapa yang memberikan Ifthor kepada orang-orang yang berpuasa,maka ia mendapatkan pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu,tanpa mengurangi pahala orang yang berpusa tersebut” (HR Turmudzi dan An Nasa’I).
Hal memberi makan dan sedekah selama bulan Ramadhan ini bukan hanya untuk keperluan ifthor melainkan juga untuk segala kebajikan, Rasulullah yang dikenal Dermawan dan penuh peduli terhadap nasib umat, pada bulan Ramadhan kedermawanan dan kepeduliannya tampil lebih menonjol,kesigapan beliau dalam hal ini bahkan dimisalkan sebagai “Lebih cepat dari Angin”(HR Bukhori).
4. Memperhatikan Kesehatan
Shaum memang termasuk kategori Ibadah (murni),sekalipun demikian agar nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa peristiwa dibawah ini :
a. Menyikat gigi dengan siwak (HR Bukhori dan Abu Daud)
b. Berobat seperti dengan berbekam (Al Hijamah) seperti yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim
c. Memperhatikan penampilan,seperti pernah diwasiatkan Rasulullah SAW kepada sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan baik dan tidak dengan wajah yang cemberut (HR Al Haitsami)
5. Memperhatikan Harmoni Keluarga
Sekalipun puasa adalah ibadah yang khusus di peruntukkan kepada Allah, yang memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah,tetapi agar hal tersebut diatas dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari’atkan agar selama berpuasa umat tidak mengabaikan harmoni dan hak-hak keluarga. Seperti yang diriwayatkan oleh istri-istri beliau,selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi hak-hak keluarga beliau. Bahkan ketika Rasulullah berada dalam puncak praktek ibadah shaum yakni I’tikaf,harmoni itu tetap terjaga.
6. Memperhatikan Aktivitas da’wah dan sosial
Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru menjadikan bulan puasa sebagai bulan penuh Amaliyah dan aktivitas positif. Selain yang telah tergambar seperti tersebut dimuka, beliau juga aktif melakukan da’wah,kegiatan sosial,perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah beliau alami beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekkah (tahun 8 H), dan ke Tabuk (tahun 9 H),mengirimkan 6 sariyah (pasukan jihad yang tidak secara langsung beliau ikuti/pimpin) dll.
7. Qiyam Ramadhan (Sholat Tarawih)
Diantara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah Qiyam al lail, yang belakangan lebih populer disebut sholat Tarowih. Hal demikian ini beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran bila akhirnya sholat Tarowih (berjama’ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah kemudian meninggalkannya. (HR Bukhori Muslim). Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat Tarowih dalam 11 raka’at dengan bacaan2 yang panjang (HR Bukhori Muslim). Tetapi ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat Tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan riwayat lain, juga dari Umar ibn al Khothob RA, yang menyebutkan jumlah raka’at sholat Tarawih adalah 21 atau 23 raka’at (HR Abdur Razaq dan al Baihaqi). Mensikapi perbedaan raka’at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari Ibnu hajar al Asqolani asy Syafi’I, seorang tokoh yang dijuluki sebagai amirul mu’minin fi hadist, beliau menyampaikan bahwa : Beberapa Informasi tentang jumlah raka’at Tarowih menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 raka’at,kadang 21 dan terkadang 23 raka’at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 raka’at itu dilakukan dengan bacaan yang panjang sehingga mereka bertelekan diatas tongkat penyangga, sementara mereka yang sholat dengan 21 dan 23 raka’at mereka membaca bacaan-bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma’ninah sholat) sehingga tidak menyulitkan.
8. I’tikaf
Diantara Amaliyah sunnah yang selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam bulan Ramadhan ialah I’tikaf,yakni berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al Khudri RA, hal demikian ini pernah beliau lakukan pada awal Ramadhan,pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini dianggap berat sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh jika Imam az Zuhri berkomentar : Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah I’tikaf, padahal Rasulullah SAW tak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah sehingga wafatnya disana.
9. Lailat al Qadr
Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai lailat al Qodr, yang lebih berharga dari seribu bulan (QS. Al Qodr : 1-5). Rasulullah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailat al Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa (HR Bukhori Muslim). Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa : Barang siapa yang sholat pada malam Lailatul Qodr berdasrkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu”. (HR Bukhori Muslim).
10. Umroh
Umroh atau haji kecil bagus juga apabila dilaksanakan pada bulan Ramadhan,sebab nilainya bisa berlipat-lipat, sebagaimana pernah di sabdakan Rasulullah kepada seorang wanita dari Anshor bernama Ummu Sinan: “Agar apabila datang bulan Ramadhan ia melakukan umroh,karena nilainya setara haji bersama Rasulullah SAW.(HR Bukhori Muslim).
11. Zakat Fithr
Pada hari-hari terkahir bulan ramadhan Amaliyah yang di sunnahkan oleh Rasulullah SAW ialah membayarkan zakat fithr,suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat Islam baik laki-laki maupun perempuan ,baik dewasa maupun anak-anak (HR Bukhori Muslim). Zakat Fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa dan untuk membantu kaum fakir miskin.(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
12. Ramadhan bulan Taubat menuju Fithroh
Selama sebulan penuh secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang maha pemurah juga maha pengampun . Beliaulah Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hamba Nya dari Api neraka (HR Rirmidzi dan Ibnu Majah). Karena inilah satu kesempatan emas agar umat dapat kembali, bertaubat agar mereka selesai melaksanakan ibadah puasa mereka benar-benar kembali kepada fthroh nya.
***
Dari Sahabat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar