Tampilkan postingan dengan label hadist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadist. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Juli 2012

Berdo’a dalam Puasa.


Nabi Muhammada SAW pernah bersabda kepada para sahabat, “ada tiga (kelompok) orang yang sekali-sekali tidak akan ditolak do’anya oleh Allah. Pertama, do’a orang yang berpuasa. Kedua, do’a kepala negara yang adil. Ketiga, do’anya orang yang teraniaya.”

Nabi Mengatakan bahwa Ramadahan itu adalah bulan penuh rahmah pada sepuluh hari pertama, penuh maghfirah pada sepuluh hari kedua, dan kebebasan dari api neraka pada sepuluh hari terakhir.
Al Qur’an memberikan beberapa makna untuk Kata Do’a, bisa berarti istighatsah (permohonan bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil, dan memuji. Dengan rajin berdo’a Insya Allah motivasi kita berpuasa, yaitu Taqwa, Insya Allah akan tercapai.
Lebih tegas lagi Nabi SAW berkata, :”Do’a itu adalah ibadah, artinya mengabdikan diri kepada Allah. Kemudian beliau membuka Al Qur’an, “Tuhanmu telah berfirman : “Berdo’alah kamu dan mintalah kamu kepada-Ku, niscaya aku menerima permintaanmu, sesungguhnya mereka yang sombong tidak mau berdo’a kepada-Ku akan masuk kedalam neraka jahanam sebagai seorang hina-dina.”
Agar do’a kita diterima Allah, sebaiknya kita patuhi tata cara berdo’a, antara lain hati kita harus ikhlas, konsentrasikan pikiran kepada siapa kita memohon, lalu kaji ulang apa apa yang kita mohonkan, lalu serahkan segala urusan kepada Nya. Nabi SAW berkata : “Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang ceroboh, Allah juga tidak mengabulkan do’a yang dicampuri dosa dan dalam keadaan memutus silaturahim.
Mengapa do’a kita tidak diterima Allah, padahal Ia berjanji akan mengabulkannya?
Seorang Sufi menjawab : Tujuh sebab do’a yang ditolak yaitu :
  1. Apa yang kita perbuat menyebabkan Allah murka.
  2. Mengaku hamba Allah tetapi tidak patuh
  3. Al Qur’an dibaca, tetapi perintah dan laranganNya diabaikan
  4. Mengaku umat Muhammad tetapi tidak melaksanakan sunnahnya
  5. Mengaku dunia ini tidak berharga disisi Allah, tetapi merasa senang kepadanya
  6. Tahu bahwa dunia tidak kekal, tetapi tingkah laku kita menggambarkan seakan-akan dunia ini kekal selamnya
  7. Mengaku akhirat itu lebih baik dari dunia, tetapi kita selalu mengutamakan dunia dan tidak bersungguh-sungguh terhadap akhirat.
***
Dari Sahabat

Ghibah dan Puasa


dari ‘Ubaid r.a, dia berkata : “Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka. Sesampainya utusan tsb kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW bersabda : “Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah ‘daging-daging’ mereka yang dipergunjingkan.” (Hadits Riwayat Ahmad)

“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan , keduanya bersekutu dalam perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)
“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan yang haram.” (Al-Qur’an Surat Al-Maidah : 42)
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “ (Al-Qur’an Surat Al-Hujuraat:12)
***
REFERENSI: Ihya Ulumiddin, Imam Al-Ghazali